Menu

Candi Penataran

Wisata Candi Penataran, Candi Bersejarah yang Elok di Kota Blitar » Bila telah tiba di Kota Malang tidak ada salahnya bila menyempatkan diri berkunjung ke kota Blitar. Malang-Blitar hanya dipisahkan waktu sekitar 120 menit perjalanan dengan naik mobil. Kota Blitar juga menyimpan tempat wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi. Salah satu tempat wisata tersebut adalah Candi Penataran.

WISATA CANDI PENATARAN JAWA TIMUR

WISATA CANDI PENATARAN JAWA TIMUR

Wisata Candi Penataran memiliki nama asli Candi Palah adalah objek wisata budaya bersejarah yang elok dan menarik. Candi ini terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kota Blitar disamping itu candi ini berada di lereng barat daya Gunung Kelud.. Menurut penelitian para ahli disimpulkan bila Candi ini dibangun pada awal abad 12 M pada masa Raja Srengga dari Kediri.

Termasuk sebagai gugusan candi bersifat keagamaan Hindu Siwaitis. Berdasarkan kitab Negarakertagama diketahui bila candi ini berfungsi sebagai tempat pemujaan Hyang Acalapati atau Girindra atau Raja Gunung.

#Asal Usul Candi Penataran

Pada tahun 1815, Sir Thomas Stanford Rafles menemukan Candi Penataran. Dengan ditemukannya candi tersebut maka banyak peneliti yang mulai berdatangan untuk melakukan penelitian dan pencatatan terhadap candi tersebut.

Di dalam kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca (1365) disebutkan bila Candi Penataran disebut dengan Candi Palah. Candi ini sering dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit untuk memuja Hyang Acalapati. Hyang Acalapati merupakan perwujudan dewa Siwa yang dikenal juga dengan nama Girindra atau Raja Gunung.

Kesamaan nama Girindra yang disebut pada kitab Negarakretagama dengan nama Ken Arok yang bergelar Girindra atau Girinatha menimbulkan dugaan bahwa Candi Penataran adalah tempat pedharmaan (perabuan) Ken Arok, Girindra juga adalah nama salah satu wangsa yang diturunkan oleh Ken Arok selain wangsa Rajasa dan wangsa Wardhana. Sedangkan Hyang Acalapati adalah salah satu perwujudan dari Dewa Siwa, serupa dengan peneladanan sifat-sifat Bathara Siwa yang konon dijalankan Ken Arok.

Para peneliti memiliki kesimpulan bahwa Candi Penataran ini sengaja dibangun di lereng Gunung Kelud sebagai tempat atau kawasan untuk memuja gunung. Pemujaan ini bertujuan menghindarkan dari bencana atau malapetaka yang mungkin ditimbulkan oleh Gunung Kelud yang sering meletus.

#Sejarah Berdirinya

Berdasarkan catatan sejarah yang tertulis pada sebuah batu di kawasan candi, diduga Candi Penataran atau Candi Palah ini dibangun pada awal abad 12 M ketika Raja Srengga dari Kediri berkuasa.

Pembangunan candi ini tidak berhenti begitu saja dan bahkan hingga kerajaan kediri sudah berganti dengan kerajaan baru yang besar, candi ini terus dikembangkan. Pembangunan terus berlanjut dan terus dikembangkan serta diperbaiki sampai era pemerintahan Raja Hayam Wuruk dari Majapahit.

Perhatian terhadap prasasti Palah memang terus berlanjut dari generasi ke generasi. Setelah kerajaan kediri hanya menjadi kerajaan bawahan dari kerajaan Singosari. Candi ini mulai kembali diperhatikan pada tahun 1286 di masa pemerintahan Raja Kertanegara yang merupakan raja Singosari. Beliau mendirikan Candi Naga dengan hiasan relief naga yang disangga oleh 9 orang sebagai lambang candrasengkala ”Naga muluk sinangga jalma” atau tahun 1208 Saka.

Berbagai kajian oleh para sejarawan terhadap teks-teks kuno, kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca, misalnya, dijelaskan bahwa Candi Penataran sangat dihormati oleh para raja dan petinggi kerajaan besar di Jawa Timur. Candi Penataran pernah menyimpan abu dari raja Rajasa (Ken Arok) pendiri kerajaan Singasari, dan juga abu dari raja Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) pendiri kerajaan Majapahit.

Bahkan konon, menurut legenda rakyat setempat, sumpah sakral Mahapatih Gajah Mada untuk menyatukan seluruh Nusantara dalam kekuasaan Majapahit, yang dikenal dengan nama “Sumpah Palapa”, diucapkan di Candi Penataran. Pada masa pemerintahan Jayanegara candi Penataran mulai mendapat perhatian kembali, kemudian dilanjutkan pada masa Tribuanatunggadewi dan Hayam Wuruk.

#Peninggalan & Informasi lainnya

Candi Penataran ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian

a. Gerbang

Pada bagian sisi barat candi terdapat gerbang masuk candi, yang mana bila pengunjung masuk akan terdapat dua buah arca dwarapala ukuran besar yang berfungsi sebagai penjaga pintu.

b. Pelataran Depan

Di area pelataran depan didapati kurang lebih 6 buah bekas bangunan. Salah satu bangunan yang utama adalah Bale Agung. Bale Agung ini merupakan suatu bangunan yang digunakan untuk tempat berkumpulnya para pandita.

Pada saat ini, Bale Agung hanya dapat dijumpai dalam kondisi yang tidak utuh. Yang tersisa dari bangunan tersebut hanyalah lantai saja. Sejajar dengan Bale Agung adalah tempat tinggal para pandita.Bangunan lainnya yang dapat diketahui adalah Batur Pendapa. Batur Pendapa berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan sesajen dalam suatu upacara keagamaan.

c. Pelataran Tengah

Bila pengunjung memasuki pelataran tengah maka akan disambut oleh dua buah arca dwarapala namun dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan yang terdapat di gerbang masuk. Pada pelataran ini dapat dijumpai candi naga. Disebut begitu karena bangunan tersebut sekeliling tubuhnya dililit oleh pahatan yang berwujud naga.

d. Pelataran Dalam

Pada pelataran inilah bangunan induk atau candi utama terletak. Dikatakan candi induk karena bangunannya merupakan yang terbesar di antara seluruh bangunan di kawasan Penataran ini.

Lokasinya yang terletak paling belakang dapat dikatakan merupakan tempat paling suci. Bangunan candi terdiri atas tiga teras bersusun dengan tinggi sekitar 7,19 m.

Dapat dijumpai juga sebuah prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Palah yang terdapat di selatan candi utama. Prasasti tersebut ditulis dengan menggunakan huruf Jawa Kuno yang isinya kurang lebih tentang peresmian sebuah tanah perdikan untuk kepentingan Sira Paduka Batara Kalah. Prasasti ini dibuat atas perintah Raja Srengga dari Kerajaan Kediri serta berangka tahun 1119 Saka (1197 M).

Bila menilik prasasti tersebut serta andaikata benar bahwa Candi Palah adalah sama dengan Candi Penataran maka usia candi ini sudah cukup tua. Serta bangunan tersebut layak dibanggakan karena bangunan tersebut masih kokoh berdiri sampai saat ini. Padahal bangunan yang berasal dari era yang sama telah banyak yang runtuh.

Pada saat ini Candi Penataran hanya berfungsi sebagai tempat obyek wisata. Hampir tidak pernah digunakan sebagai tempat upacara keagamaan.

Bila pengunjung ingin mengetahui buah mojo yang terkenal bukan dapat melihatnya karena terdapat pohon mojo. Buah Mojo ini terkenal konon menjadi cikal bakal nama Kerajaan Majapahit.

Bagi wistawan yang ingin berkunjung ke kawasan Candi Penataran, ditarik biaya retribusi kawasan wisata yang cukup murah hanya Rp 3.000 per orang di luar biaya parkir.

Pengunjung juga dapat membeli oleh-oleh khas Blitar serta kaos dengan bergambar candi ataupun corak yang lain.

Objek Wisata Candi Penataran buka dari pukul 07.00 – 17.00 setiap harinya.

Diposting Oleh | tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Informasi Menarik Lainnya